Pemuda merupakan ruh dari perubahan, karena keinginan dan semangat dari pemuda yang banyak membawa perubahan di muka bumi ini. Bercermin dari sejarah, pengikraran Sumpah Pemuda yang dirintis oleh kaum muda intelek menjadi cikal bakal berkobarnya semangat kemerdekaan, semangat untuk lepas dari rantai penjajahan. Dan sekali lagi, semua itu berawal dari pemuda. Kemudian pasca kemerdekaan, pemuda kembali memegang posisi-posisi strategis untuk bekerja keras membangun bangsa dan semua itu dapat kita rasakan sampai saat ini. Yang menarik kemudian, kekuatan pemuda pula yang pernah menjadi power dalam usaha penggulingan rezim orde baru (orba) yang dianggap sangat merugikan masyarakat Indonesia. Lalu apa lagi yang diragukan dari semangat dan kekuatan pemuda.

Dalam perkembangannya, kini pemuda dihadapkan pada kondisi dan tantangan besar, bukan lagi tantangan perang terhadap penjajah atau usaha untuk menyatukan Negara kesatuan Republik Indonesia, namun tantangan untuk mampu meraih kemerdekaan di tengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Perkembangan teknologi yang terjadi saat ini tentu saja membawa manfaat yang sangat besar, namun ternyata manfaat tersebut sama besarnya dengan pengaruh negatif yang bisa saja terjadi.

Sebagai Negara berkembang, kemajuan teknologi bagi Indonesia seperti harga mati. Mau atau tidak, siap atau tidak, perkembangan teknologi akan menjadi bagian kehidupan yang tak bisa lagi dilepaskan. Dimana saja anda berada, pengaruh perkembangan teknologi telah menyentuh seluruh sendi-sendi kehidupan. Maka tak ada jalan untuk menghindar, kini yang penting adalah memikirkan formulasi yang tepat untuk dapat bersahabat dan menaklukkan teknologi yang ada.

Pada kenyataannya, kehadiran teknologi-teknologi yang canggih membawa hal yang sangat positif dan tentu saja semakin membuat hidup menjadi mudah dan simple. Disini peran pemuda diharapkan mampu memaksimalkan segala bentuk perkembangan tersebut untuk mendorong kemajuan bagi Negara kita. Mampu menjadi duta teknologi untuk kemudian memasyarakatkan teknologi dengan tetap mengikutkan sosialisasi tentang kaidah-kaidah dalam memanfaatkan teknologi ini,
Memasyarakatkan teknologi memang tidak mudah, apalagi di tengah kondisi masyarakat yang majemuk. Tingkat ekonomi suatu wilayah menjadi salah satu factor kenapa kemudian sulitnya memaksimalkan pengetahuan teknologi kepada masyarakat. Hal ini tentu perlu mendapat perhatian karena bagaimanapun usaha memasyarakatkan teknologi akan membawa hasil yang positif yakni mendorong peningkatan kecerdasan anak bangsa. Maka pemuda dituntut untuk ikut memasyarakatkan bukan hanya menikmati sendiri.

Kemerdekaan dalam dunia cyber mengandung arti yang tidak sederhana, kemampuan menaklukkan teknologi kemudian mengimplementasikan dan membagi dalam kehidupan bermasyarakat menjadi hal yang sepatutnya dilakukan oleh pemuda. Bukan hanya itu,

Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa dampak positif dari teknologi memiliki besarnya dengan pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan. Sebagai contoh, kemajuan teknologi tenyata membuat beberapa orang mulai sibuk dengan interaksi sosialnya di dunia maya seperti di facebook dan twitter. Hal tersebut membuatnya kemudian lupa untuk berinteraksi dalam diskusi-diskusi bulanan, bahkan yang paling berbahaya, kadang lupa memperhatikan kesehatan sendiri karena tingkat ketergantungan terhadap teknologi mulai tinggi. Ada pula pergeseran perilaku yang kini banyak ditemui pada pelajar dan mahasiswa. Kemajuan teknologi membuat mereka lebih senang melakuakan aktivitas copy-paste dibandingkan membuat karya sendiri.
Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Ini juga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Perlu dilakukan penanaman mindset bahwa kemajuan teknologi itu tidak sepantasnya menggeser nilai-nilai budaya dan moral yang selama ini ada di Negara kita. Ketika kemerdekaan dalam dunia cyber dipahami secara menyeluruh maka hal negatif dapat diminimalisir.

Berdasar pada fakta, data dan kondisi kekinian masyarakat maka ini saat yang tepat untuk menunjukkan peran pemuda. Semangat sumpah pemuda mampu membawa hadian kemerdekaan, dan kini kembali dengan semangat yang sama, kita ciptakan kemerdekaan dalam dunia cyber. Kita bisa jika bersama.

Penulis,
Devi Ahriani, ST
Alumnus Universitas Hasanuddin Makassar
Pemerhati pendidikan dan pemuda