Berfikirlah Maka Kamu Ada Merasa Ada
Posted by deviOct 1
Anda mungkin pernah mendengar sebuah guyonan bahwa jika otak orang Indonesia dijual maka harganya akan sangat mahal. Wow, bukankah itu sebuah pujian atau malah guyonan?!. Yah tepat sekali, itu sebuah guyonan yang bisa dianggap pula hinaan. Betapa tidak, otak orang Indonesia dihargai sangat tinggi karena disinyalir otak orang Indonesia itu masih original, jarang digunakan sehingga nilai jualnya tinggi. Coba letakkan dua telapak tangan anda di kepala dan rasakan, kira-kira berapa harga jual otak anda?!. Semakin tinggi nilai jualnya maka berarti anda sangat jarang menggunakan otak anda. Kemungkinan anda lebih sering menggunakan feeling anda, atau otot anda untuk menyelesaikan masalah-masalah anda.
“aku berfikir maka aku ada”, salah satu tagline yang mungkin tidak asing lagi di telinga anda. Yang mungkin akan menggiring anda pada topic pembahasan filsafat. Jika anda mampu mengarahkan fikiran anda ke dunia filsafat ketika mendengar tagline tadi maka yakin saja harga jual otak anda mulai menurun. Filsafat merupakan salah satu cabang ilmu namun beberapa ahli menyebutnya sebagai ibu dari ilmu pengetahuan. Cabang yang kemudian disebut pula sebagai ‘ibu’?!. Tinggalkan dulu pertanyaan itu. Sekarang seandainya memang benar bahwa filsafat merupakan ibu dari ilmu pengetahuan maka akan terasa aneh jika anda sangat menguasai misalnya ilmu fisika kuantum sementara pengetahuan anda tentang filsafat sama dengan nul besar.
Sebenarnya untuk memahami filsafat anda tak perlu menghafalkan nama-nama filsuf kuno yang melahirnya banyak gagasan yang sampai saat ini masih sering kita dengarkan bahkan dengungkan. Menghafalkan silsilah dan aliran filsafat mereka hanya menjadi nilai tambah ketika anda benar-benar serius ingin tahu banyak tentang filsafat. Filsafat seadanya sangat sederhana, ketika anda mendengar suatu kata dan kemudian berusaha mengolahnya baik menggunakan rasio akal dan hati maka sesungguhnya anda sedang ber-filsafat. Hanya saja, cobalah mencapai keputusan bijak, karena bila berdasar pada aliran filsafat pada ahli di masa lalu, mereka terikat pada satu benang merah yakni mencintai kebijakan.
Dalam menyelesaikan masalah kita senantiasa dituntut untuk mampu mewadahi semua keinginan bersama dan itu hanya bisa terjadi ketika kita sampai pada kesepakatan bersama. Jadilah filsuf, jadilah pencinta kebijkasanaan, dan jadilah berarti karena hanya dengan kebijakan kita bisa merasa berarti di mana saja.
Medio, akhir januari 2010
No comments